RADIO RIMBA RAYA SEBAGAI BUKTI NASIONALISME ACEH DAN SEJARAH MEMPERTAHANKAN KEDAULATAN INDONESIA

Ditulis oleh : Hasbi, S.Tr.M., C.FR.

Banda Aceh – Radio Rimba Raya sebagai penyelamat Indonesia semasa agresi militer Belanda kedua 1948. Sebagai  satu-satunya media komunikasi yang menyerukan kemerdekaan Indonesia, Radio Rimba Raya terletak di Kabupaten Bener Meriah tepatnya di Jl. Buntul Nangka, Paya Gajah, Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Aceh 24582, secara geografis terletak pada titik Koordinat 4°43’20.0″N 96°52’08.1″E. Melalui radio inilah disiarkan pesan–pesan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena pada saat itu Yokyakarta yang merupakan ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia telah dikuasai Belanda. Radio Rimba Raya memiliki daya pancar 1 Kilowatt dan bekerja pada frekwensi 19,25 dan 61 meter ini, mulai bersiaran sejak terjadinya Agresi Belanda I sampai dengan Konferensi Meja Bundar berakhir dan tentara pendudukan Belanda ditarik dari Indonesia.

Radio Rimba Raya adalah salah satu stasiun radio legendaris dalam sejarah perjuangan Indonesia, khususnya dalam konteks mempertahankan kemerdekaan dari ancaman agresi militer Belanda. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Belanda berusaha kembali menjajah Indonesia melalui Agresi Militer Belanda I (1947) dan II (1948). Pada Agresi Militer Belanda II, Belanda menduduki Yogyakarta (saat itu ibu kota RI) dan menawan para pemimpin republik seperti Soekarno dan Hatta. Belanda kemudian mengklaim kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia telah berakhir.

Radio Rimba Raya didirikan di hutan rimba wilayah Aceh, tepatnya di sekitar Takengon dan Bireuen, sebagai stasiun pemancar radio darurat oleh pejuang Indonesia. Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949, yang mengakui kedaulatan Indonesia secara internasional, Radio Rimba Raya kemudian mengakhiri siaran perjuangannya. Meskipun tidak sepopuler Radio Republik Indonesia (RRI), Radio Rimba Raya memiliki peran vital dalam mempertahankan eksistensi Indonesia di mata dunia pada saat krisis nasional.

Sebagai bukti nasionalisme Aceh, pada tanggal 27 Oktober tahun 1987 dibangun dan diresmikan monumen Radio Rimba Raya di Kabupaten Bener Meriah yang diresmikan oleh Bapak Bustani Arifin saat itu menjabat sebagai Menteri Koperasi/Kepala Badan Urusan Logistik. Monumen merupakan bangunan bersejarah dalam mempertahankan agresi Belanda dan saat ini sudah menjadi salah satu tujuan wisata yang sangat ramai di kunjungi oleh wisata lokal dan wisata manca negara. Radio Rimba Raya sebagai embrio Radio Republik Indonesia (RRI), merupakan catatan sejarah kemerdekaan Republik Indonesia yang tak boleh dilupakan anak bangsa. Sebagai media informasi bermuatan edukasi, Radio Rimba Raya sudah berkiprah luas sampai saat ini terus berupaya mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga penyiaran informasi dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dampak dan Pengaruh Radio Rimba Raya

  1. Membantah klaim Belanda: Radio Rimba Raya menjadi satu-satunya suara resmi Republik Indonesia saat para pemimpin pusat ditahan, dan membuktikan bahwa RI masih aktif.
  2. Mendapat dukungan internasional: Negara-negara seperti India dan Mesir yang mendengarkan siaran ini kemudian memberikan dukungan diplomatik kepada RI.
  3. Menjaga semangat juang rakyat: Siaran radio ini menyebarkan kabar perjuangan dan membangkitkan semangat rakyat di seluruh Nusantara.

Radio Rimba Raya adalah simbol perlawanan dan kedaulatan informasi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia adalah bukti betapa pentingnya komunikasi dan media dalam perang kemerdekaan, dan peran strategis Aceh sebagai benteng pertahanan republik.

kreyatcenter.com

Seiring perkembangan teknologi, smart digital, smart media sosial, Radio Rimba Raya juga harus mempertimbangkan desain pemberitaan yang dapat menyentuh lapisan milenial. Dalam mempertahankan eksistensi ini, Duta Damai Dunia Maya Aceh, dibutuhkan perannya dalam menyebarkan semangat kebangsaan dan nilai-nilai budaya bangsa yang harus diinformasikan kepada masyarakat milenial. Sebuah informasi yang baik dan benar adalah informasi yang tidak mendiskreditkan agama dan SARA, informasi yang bersifat hoax, adu domba, ujaran kebencian, hate speech, manipulasi dalil, dan distorasi sejarah.

Sebagai negara yang kaya akan budaya, Indonesia, melalui peran penulis ikut menjaga kelestarian budaya nasional dan kearifan lokal Aceh, sebagai perwujudan cipta, karya, dan karsa yang berlandaskan pancasila dalam mengembangkan harkat dan martabat bangsa Indonesia. *HSB)

——————————————-

#Sosial Budaya
#Aceh
#Radio Rimba Raya
#RRI
#Sejarah Aceh

Get 30% off your first purchase

X
Scroll to Top